Aftina Findiana
Senja itu terlihat murung. Wajahnya tampak layu, karena baru saja ditinggal oleh kekasihnya. Waktu terus berjalan dan dia masih merasakan penat di dalam hatinya. Sendiri bukanlah tujuan utama, kalau sudah ada yang mengisi, kisah masa lalu hanya tinggal kenangan. Semenjak engkau ditinggal pergi wajahmu tak semangat lagi. Kulihat engkau seperti orang yang sedang patah hati. Setahun berlalu engkau mulai mencair dengan kehidupanmu, mungkin engkau sudah melupakan cerita kelam masa itu.
Kini saatnya engkau harus membuka lembaran baru dan yang lalu biarlah berlalu. Biarkan cinta datang dan pergi, kurasa suatu saat ada yang mengisi lagi. Engkau adalah gadis yang paling pendiam di dunia ini, sama seperti aku. Namamu Aftina Findiani, setahun yang lalu engkau baru saja putus dengan pacarmu. Kurasa engkau akan merasa trauma jika jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Aku dan dirimu sudah kuanggap seperti teman dekat. Setiap kali ada tugas kelompok pasti kita berdua tak pernah berpisah. Hingga pada suatu masa aku datang ke rumahmu untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari bapak guru.
Pertama kalinya aku datang, aku disambut ibumu seperti layaknya seorang menantu. Aku dan ibumu sudah tidak ada jarak lagi, karena ibumu sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri. Mungkin kamu adalah orang yang paling beruntung, karena kamu masih punya seorang ibu. Berbeda dengan diriku, ibuku meninggal dunia sesaat setelah aku terlahir di dunia. Disana aku merasakan sebuah kebahagiaan dan kenyamanan. Aku dan kamu adalah seorang sahabat, yang mungkin lebih dari sahabat. Saat itu ibumu mengajak aku makan malam. Suasana malam yang sepi ditambah rintik hujan yang menyayat hati.
Malam ini aku ijin kepada ayahku, kalau aku akan menginap di rumahnya Aftina. Saat itu hujan tak kunjung reda, suara petir dan angin saling sahut bersahutan, tak lama kemudian listrik mulai padam dan susana menjadi mencekam. Aku dan Aftina berusaha untuk mencari korek api, namun tidak kunjung ketemu. "An, aku takut," ucapnya kepadaku dengan nada sedikit manja. "Alah, gini aja takut, tenang aja kan ada aku di sampingmu," ucapku sedikit ngegombal. Saat itu terdengar suara petir dengan volume yang cukup keras, sontak hal itu membuat Aftina terkejut lalu memeluk diriku erat-erat. Wajah aftina tampak ketakutan dan dia belum bisa melepas pelukannya. Aku hanya bisa terdiam sembari mengelus-elus rambutnya. Saat itu aku merasakan suatu adrenalin yang berbeda dengan suasana yang sangat mendukung. Meskipun kita hanya sebatas sahabat, namun pelukan itu seperti pelukan seorang pacar yang sudah lama ditinggal.
Malam semakin larut dan lampu rumah masih padam. Hanya ada nyala satu lilin kecil yang memberikan sedikit cahaya rumah ini. "Kamu masih takut, Aftina?" tanyaku. "Iya, An, aku masih takut. Kamu tidur di kamarku aja, ya?" ucapnya penuh harap. "Nggak baik seorang cowok tidur satu kamar dengan cewek," jawabku penuh dengan bijaksana, padahal aslinya pingin juga tidur satu kamar. Mungkin kalian pikir aku ini orangnya mesum, padahal apa yang kalian pikirkan itu salah. Saat itu Aftina tidur di kamarnya, sedangkan aku tidur di sofa ruang tamu. Hawa dingin merasuk tubuhku. Malam itu tiba-tiba Aftina menjerit seperti tak sadarkan diri. Mendengar hal itu aku langsung pergi ke kamarnya. "Ada apa, Aftina?" tanyaku dengan wajah panik. "Tadi aku didatengin tikus,"ucapnya masih ketakutan. "mana tikusnya, mana! aku jotos kapok dia!" ucapku sembari bercanda seolah menjadi pahlawan kesiangan, padahal sebenarnya aku juga takut sama tikus.
Saat itu Aftina meminta aku memeluknya. Hal ini membuat aku semakin curiga dan ingin melampiaskan perasaanku saat ini. "Sebenarnya hubungan kita itu apa sih, sahabat, pacar, apa teman sih?, aku kok bingung. Jujur saja Aftina, sebenarnya aku dari dulu suka sama kamu, entah kenapa aku itu pingin selalu dekat sama kamu," ucapku panjang lebar. "Aku juga sebenarnya suka sama kamu, An. Mungkin kamu itu sudah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri, sebenarnya aku lagi deket sama seseorang, tapi saat ini hubungan kita terpisah setelah dia meneruskan kuliah di Jakarta. Namanya Rio, aku kenal dia sudah lama dan sekarang hubungan kita LDR-ran", ucapnya dengan muka sedikit manyun. " Ouh, kenapa kamu baru bilang sekarang kalau kamu sudah punya pacar!, mulai sekarang aku nggak akan jadi kakak kamu lagi!, percuma kalau jadi kakak doang, kalau hubungan kita nggak jelas seperti ini!" ucapku lalu meninggalkan rumah.
Saat itu aku merasa dunia ini tak adil, baru sekarang aku disakitin oleh seorang wanita dengan cara yang sangat halus. Hampir saja malam itu aku berbuat yang tidak senonoh kepadanya, namun aku bersyukur dia mau mengakuinya sekarang. Mungkin saat ini aku merasakan sakit yang belum bisa aku sembuhkan dengan cara apapun. Aku hanya bisa berjalan entah kemana aku pergi tanpa ada tujuan yang jelas. Malam itu aku benar-benar kedinginan dan membuat diriku berhenti sejenak di pelataran toko yang sudah tutup. Disana aku tidur beralaskan kardus bekas seperti layaknya seorang gelandangan.
Malam itu aku merasa berada di titik yang paling rendah. Kulihat sebelum aku pergi, Aftina sempat meneteskan air matanya. Aku sedikit menyesal karena mengakhiri semua ini dengan cara yang salah. Aku memarahinya sampai dirinya semakin ketakutan. Hujan tak kunjung reda dan tangisan batinku semakin mengguyur kencang. Rasa sedih dan menyesal setelah terjadinya perpisahan. Hari-hariku menjadi kelam dan tak punya semangat juang. Aku seperti lelaki pecundang yang tak bisa apa-apa. Keesokan harinya aku pergi ke sekolah. Kulihat Aftina sedang duduk sendirian di depan kelas. Saat itu aku ingin mengungkapkan jati diriku bahwa aku akan bertanggung jawab atas semua permasalahan ini. "Aftina, maafkan kejadian kemarin ya?", ucapku sembari menundukkan kepala. " Seharusnya aku yang meminta maaf, bukan kamu, An," ucapnya dengan penuh penyesalan. Intinya kami berdua sama-sama menyesali hubungan dekat yang pernah kami alami. Setelah permintaan maaf itu aku dan dia kembali berdamai dengan kehidupan masing-masing. Bagiku, cinta tak selamanya harus memiliki, mungkin saat ini aku lebih bahagia melihatmu dengan yang lain. Suatu saat jodohku akan datang di waktu yang tepat. Kuharap engkau akan selalu bahagia, meski suatu saat kita akan berpisah untuk selamanya.
Komentar
Posting Komentar