Aprida Swastika
Tenggelam dalam lautan asmara melewati aliran rindu yang menyambar. Aku terpaku melihat kecantikan wajahmu yang rupawan, semerbak harum melati membuat hatiku berdegup kencang. Engkau sudah membuat diriku tersihir dengan tipuan wajah manismu, sehingga diriku larut dan bersemayam di bawah naungan darimu. Hari berganti hari melewati waktu yang terus berjalan tak menentu. Tak ada rasa bosan ketika berjumpa denganmu, melihatmu saja aku sudah bahagia, apalagi sampai bisa memilikimu. Bukan mustahil bagiku jika Tuhan sudah berkehendak. Memilikimu adalah anugerah terindah dalam hidupku, namun diriku harus melihat sebuah realita yang membuatku pilu.
Sebuah realita yang terkadang membuat diriku menyerah untuk selalu mengejarmu dan mengagumimu. Engkau adalah wanita yang paling sempurna di dunia ini. Bagiku engkau adalah mentari yang selalu bersinar menyinari hatiku setiap pagi. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Setiap hari aku berangkat sekolah dengan mengayuh sepeda. Di sepanjang jalan aku menikmati hamparan pemandangan sawah yang indah. Sesampainya di sekolah aku disambut oleh guru BK yang ternyata dia adalah ibun kandungmu. Betapa malunya diriku ketika aku dihukum sama ibumu sendiri. Meskipun engkau adalah wanita yang cantik, tapi seribu pria di sekolahku tak ada yang berani mendekatimu, karena kamu anaknya guru BK yang paling galak di sekolahku, namanya Bu Marta Silalahi. Sekilas wajahnya kelihatan tenang dan menyenangkan, tapi kalau lagi marah seluruh alam semesta akan bergetar.
Saat jam pelajaran selesai, seperti biasanya aku mengikuti ekstrakurikuler basket. Aku terkejut karena dirimu juga mengikuti ekstrakurikuler ini. Dalam hati aku berkata "Alhamdulillah, biar tambah semangat latihannya" ungkapku dalam hati. Saat itu aku sengaja mengajak dia kenalan. "Hai, kenalin namaku Aan, siapa namamu?", ucapku dengan nada santai sembari mengajak dia berjabat tangan. Subhanallah ternyata dari sentuhan tangannya saja aku bisa merasakan sensasi yang luar biasa, tanganya itu lembut dan dingin, ingin rasanya aku pegang lama-lama tapi aku malu dilihatin banyak orang. "Namaku Aprida", jawabnya dengan wajah sedikit cuek. Setelah bersalaman kami langsung mengikuti latihan bola basket. Kulihat dia cukup jago memainkan bola basket, tubuhnya langsung dan menjulang tinggi, tidak seperti aku yang sedikit agak pendek darinya.
Setelah perkenalan itu aku masih teringat dan terus aku ingat sampai sekarang aku sudah mempunyai satu orang anak. Dia adalah wanita yang membuat malam-malamku selalu memikirkannya. Hingga pada akhirnya kami berdua resmi pacaran selama satu jam saja, saat itu dia tidak sengaja mengucapkannya, karena nada bicaraku kurang jelas. " Aprida kamu mau jadi pacarku?" tanyaku dengan wajah polos. Saat itu dia mendengarnya seperti ini "Aprida kamu mau tahu?" Saat itu dia hanya menganggukkan kepalanya dari kejauhan. Nah, setelah itu aku baru tahu kalau semua ini hanya salah paham.
Atas kesalahpahaman itu aku merasa kecewa, ternyata dia tidak mencintaiku sepenuhnya. Aku dan dia hanya sebatas sahabat. Mungkin waktu sudah berlalu namun kenangan itu masih membekas dihatiku, entah sampai kapan aku harus menderita dengan perasaan ini. Rasa rinduku masih ada untukmu, ingin rasanya bertemu denganmu walau hanya sekejap. Kuharap engkau masih mengigatku yang dulu pernah bersamamu. Sedingin angin salju di ufuk utara, hatiku terenyuh dan ingin tenggelam bersama rindu yang
Komentar
Posting Komentar