Henny Permatasi

 Akun masih ingat ketika engkau memberikan senyuman manis kepadaku. Waktu itu aku sedang mengikuti kegiatan study tour sekolah ke pulau dewata. Kebetulan saat itu kita berada dalam satu bis. Kamu duduk paling depan sedangkan aku duduk paling belakang. Kulihat engkau sedang bercanda dengan teman-temanmu. Kayaknya engkau orangnya sangat asyik. Selama perjalanan aku terus memperhatikan gerak gerikmu sehingga aku semakin penasaran dengan dirimu. Saat itu engkau memakai kaos berwarna merah jambu dengan bandana biru yang menghiasi kepalamu.

Akhirnya setelah sehari semalam perjalanan, aku telah tiba di pulau dewata. Suasana pulau dewata yang sejuk membuat diriku semakin terlena dan terus memikirkan dirimu. Saat itu aku mengunjungi pantai kuta, sebuah pantai dengan pemandangan kaca mata turis mancanegara. "Astaghfirullah", ungkapku dalam hati. " Alhamdulillah ", kata temanku seraya memandangi para turis. " Udah, jangan lama-lama nanti dosa!" tukasku kepadanya. Temanku yang satu ini memiliki kebiasaan aneh, setiap satu menit dia pasti memasukkan jari telunjuknya ke dalam hidung, alias dia suka sekali ngupil. Terkadang aku heran wajah seganteng dia ternyata punya kebiasaan jorok.

Namanya Fairus, kalau teman-temanku lebih suka memanggilnya irus, karena wajahnya mirip ular dumong irus. Dia terkenal sebagai cowok paling playboy di kelas. Banyak wanita yang tertarik dengan dirinya meskipun dia suka ngupil. Aku sempat iri kepadanya, karena dia mudah sekali nyari pacar, seperti halnya mancing ikan, dia selalu mendapatkan umpan yang matang sehingga cara dia mendapatkan wanita seperti mancing ikan.

Aku dan Fairus sudah kenal sejak lama, dia adalah sahabatku satu-satunya yang masih menerima aku sebagai sahabat. Terkadang aku minder kalau berteman dengan orang yang ganteng, karena takut kalah saingan kalau deketin cewek. Fairus sudah tahu kalau aku lagi naksir sama Henny. Kuharap dia tahu perasaanku saat ini. Henny adalah wanita sederhana yang suka bercanda dengan teman-temanya. Kata teman-teman dia orangnya asyik. Meskipun anaknya asyik tapi nyokap dia yang nggak asyik. Ketahuilah bahwa ibunya Henny adalah guru matematika paling killer di sekolah. Itulah yang membuat diriku sedih, bahwa realitanya aku paling susah belajar pelajaran matematika dan nilai matematikaku di sekolah selalu jeblok.

Mungkin bisa jadi aku benci dengan nyokapnya, tapi tidak dengan anaknya. Aku adalah tipe orang yang sangat pendiam, sebenarnya aku ingin berkenalan dengan Henny, tapi apalah daya nyaliku masih sangat sempit untuk mendekati dirinya. "Rus, titipkan salam sama Henny, dong?" ucapku. "Hahaha, wani piro?" ucapnya sambil tertawa kecil. "Masalah itu gampang," ucapku. Terpaksa aku melakukan cara ini, karena hanya Fairus teman yang bisa aku percaya.

Saat itu aku berada di danau bedugul. Sebuah danau dengan pemandangan yang sangat indah. Terlihat Henny sedang menaiki sebuah perahu, kebetulan perahu penumpangnya kurang satu. Mungkin ini kesempatan terakhirku untuk mendekati Henny. Selama berada di perahu aku merasa menjadi orang yang paling asing. Tak ada satupun kata atau ucapan yang keluar di dalam mulut. Coba anda bayangkan di dalam satu perahu hanya aku seorang laki-laki satu-satunya diantara lima orang cewek. Disana aku seperti patung hidup, tak ada gerakan yang aneh-aneh, aku hanya bisa melihat Henny dari jarak dekat. Hatiku berdegup kencang merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan selama ini. Senyum wajahnya membuat diriku terbius asmara. Waktu satu jam di dalam perahu terasa hanya satu detik saja bagiku, kini saatnya aku harus turun dari perahu. Terlihat tas bewarna merah yang masih tertinggal di dalam perahu, seorang sopir perahu itu memberikannya kepadaku. Mungkin ini tas punya Henny. Tak menunggu lama aku berlari mengikuti mereka. "Hen, Henny!" teriak aku sembari membawa tas merah. Kulihat Henny melihatku, aku terus berjalan sedikit pelan mendekati dirinya.  "Ada apa, ya?" tanya dia dengan wajah penasaran. "Ini tas kamu ketinggalan", ucapku dengan wajah grogi. " Oiya, makasih ya, mas?" ucapnya sembari tersenyum manis kepadaku.

Setelah pertemuan itu aku merasa langit dan bumi serasa menjadi milikku. Dunia terasa berwarna dan langitpun tersenyum ceria. Mungkin ini adalah hari yang paling menyenangkan bagi diriku. Akhirnya aku bisa kenal dan berjumpa dengan Henny meskipun dalam waktu yang begitu singkat. Tak terasa aku sudah dua hari berada di pulau dewata. Seluruh rombongan bis meninggal pulau dewata dan aku merasa sedih karena harus meninggalkan pulau dewata. Paling tidak aku sudah bisa kenalan dengan Henny.

Sesampainya di sekolah aku melihat Henny sedang duduk sendirian. Kupikir dia lagi menunggu jemputan dari kerabatnya. Mungkin ini kesempatan yang kedua bagi diriku untuk mendekati dirinya. "Hen, lagi nunggu siapa?" tanyaku "Lagi nunggu paman," jawabnya. "Daripada nunggu lama, mending tak anterin aja ke rumah," ucapku berharap dia mau ikut denganku. "Hem, ya udah aku ikut," ucapnya sembari tersenyum kepadaku. Entah mimpi apa aku semalam, ternyata Henny mau tak anterin pulang. Di sepanjang jalan aku merasa dua ekor merpati jantan dan betina lagi bermesraan. Mungkin saat ini aku harus menyatakan perasaanku kepadanya. Saat itu aku mulai mengambil nafas agar ucapkanku tidak ada yang salah. "Hen, mau nggak kamu jadi pacarku?" tanyaku sembari mengendarai motor legenda. "Maaf ya, An. Aku pinginnya kita temenan aja,"ucapnya dengan wajah sedikit murung.

Entah setan apa yang merasukimu, kupikir engkau mau menerimaku sebagai pasangan yang serius, tapi nyatanya engkau menganggapku sebagai teman biasa. Saat itu hatiku menjadi ambyar. Selama perjalanan aku meneteskan air mata, meratapi sebuah kesedihan. Seseorang yang aku anggap spesial ternyata tidak mempunyai perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Mungkin hubungan kita hanya sebatas teman, namun suatu saat nanti kita akan bertemu kembali mengarungi bahtera cinta. Aku bahagia bisa mengenalmu lebih dekat, meskipun engkau tak pernah peka, bahwa aku sebenarnya sangat mencintaimu. Setelah aku lulus SMA, aku dan kamu berpisah. Sudah lama aku tak mendengar kabar darimu. Kata salah seorang temanku, sekarang engkau sudah mempunyai seorang anak. Engkau menikah dengan laki-laki tajir, berbeda dengan diriku yang bekerja sebagai kuli bangunan.

Sampai sekarang aku belum menemukan cinta sejatiku, entah sampai kapan tuhan akan menguji diriku menjadi seperti ini. Mengenalmu adalah cara terindah Tuhan untuk membahagiakan aku. Tanpa seorang wanita dunia seakan tidak berwarna. Wanita selalu menjadi perhiasan dunia. Dimana-mana selalu ada wanita, tanpa wanita dunia seakan sirna. Kuharap calonku nanti adalah seorang wanita yang bisa menerimaku apa adanya tanpa memandang profesi dan jabatan. Aku hanya seorang lelaki biasa yang berhak mencintai siapapun asalkan dia seorang wanita. Aku tak punya harapan banyak terhadap wanita, yang paling penting dia bisa merawat anakku menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi semua orang.


Komentar