Indah Kumalasari
Wajahmu sangat indah, sama seperti namamu Indah Kumalasari. Aku mengenalmu sejak kita duduk di bangku kelas 1 SD. Banyak sekali lelaki yang suka menggodamu, tapi tidak dengan aku. Waktu itu aku malah sering bertengkar dengan dirimu, padahal dalam hati sebenarnya aku sangat mencintaimu. Waktu terus berlalu cinta monyet ini bertahan sampai kita kelas 6 SD. Aku dan kamu pernah naik sepeda berdua mengelilingi pematang sawah yang penuh dengan pohon cemara. Saat itu aku belum tahu tentang apa itu cinta, yang aku tahu hanyalah aku dan kamu bahagia setiap hari bermain bersama. Hubunganku dengan dirimu tidak cukup hanya sebatas sahabat, mungkin aku sudah menganggapnya pacaran. Hingga pada suatu masa kita berpisah.
Engkau dan keluargamu pergi ke luar kota, sedangkan diriku masih bertahan di kampung halaman sembari meneruskan sekolahku di SMP N 1 Mijen. Sejak saat itu aku tak mendengar kabarmu lagi, karena zaman dulu belum ada Facebook, Twiiter, Instagram dan media sosial lainnya. Perpisahan ini membuat aku mengerti bahwa inilah definisi cinta yang sebenarnya. Sejak itu aku merasa kangen, rindu bahkan sampai menangis mengigat cerita masa lalu. Terkadang aku berpikir bahwa cinta akan terasa ketika jarak memisahkan kita. Kuharap engkau masih mengigat diriku, meskipun suatu saat nanti engkau akan menikah lalu mempunyai seorang anak.
Waktu akan terus berjalan mengikuti rotasi bumi yang akan terus berputar. Tak terasa sudah 20 tahun lamanya kita berpisah dan saat ini umurku sudah 24 tahun. Kini engkau sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak, sedangkan diriku masih sendiri dan berjuang mencari arti kehidupan sejati. Saat itu aku melihat dirimu berjalan dengan suamimu, lalu tiba-tiba aku terbayang dan sejenak melamun. Aku melihat dirimu berjalan dengan diriku sembari membawa anak kita, tapi ternyata semua itu hanya mimpi. Tampaknya kecantikan wajahmu semakin pudar tidak seperti pada saat kita pertama kali berjumpa. Tubuhmu semakin membuncit dan rambutmu sudah tidak lurus lagi. Aku merasa kasihan dan sedih melihat kondisimu saat ini. Andaikan dulu engkau menikah dengan aku, pasti semuanya tidak akan seperti ini.
Sebenarnya aku sudah tahu, kalau suamimu dulunya adalah seorang pemabuk berat dan pekerjanya juga tidak jelas. Namun, hanya karena iming-iming harta, hatimu berlabuh kepadanya. Sejak saat itu aku berpikir bahwa cinta akan kalah dengan materi yang diberikan oleh seseorang, padahal hakikat cinta bukan dari materi semata, akan tetapi berasal dari ketulusan hati yang paling dalam. Kuharap engkau kuat menjalani kehidupanmu saat ini bersama anak-anakmu. Terimakasih engkau sudah menjadi aktris di dalam kehidupan masa laluku, yang kini sudah hilang termakan oleh waktu. Perpisahan ini akan terasa menyakitkan, namun bagiku ini adalah sebuah anugrah, karena cinta datang berasal dari perlakuan dan perbuatan kita sendiri, kalau kita menjadi orang yang baik, sudah pasti jodoh kita nanti akan baik. Percayalah bahwa cinta yang indah akan datang pada waktu yang tepat.
Komentar
Posting Komentar