Retno Arie
Seorang wanita yang aku kira seorang ibu-ibu ternyata umurnya masih sepantaran dengan aku. Waktu itu aku mendapatkan pesanan desain brosur, pertama kali kenal aku menghubungi wanita itu lewat chat whatsapp. Biasanya beberapa orang memasang foto profilnya sebagai identitas diri, kali ini aku sedikit penasaran dengan wanita yang aku anggap usianya lebih tua dariku. Beberapa waktu kemudian dia mengajak diriku ketemuan di sebuah cafe kelas atas. Saat itu aku sempat khawatir kalau tiba-tiba orang itu menipuku. Setelah aku tunggu sekian lama akhirnya wanita yang aku anggap seperti ibu-ibu datang juga.
Awalnya aku tak percaya wanita secantik dia bisa bertemu dengan aku laki-laki dengan tampang biasa saja. Saat itu aku mengajak dirinya kenalan. "Namamu siapa?" tanyaku. "Namaku Retno Arie, panggil aja Arie" jawabannya dengan senyuman halus. "Umurmu berapa?" tanyaku. "umurku 24 tahun", jawabnya. " Wah, sama dong", ucapku sok asyik. Setelah perkenalan itu aku baru sadar bahwa umurku dengan dirinya sama. Baru kali ini aku mendapatkan klien bisnis seorang anak muda, tak seperti biasanya aku selalu bertemu dengan orang-orang tua.
Setelah perkenalan itu aku dan dia membicarakan bisnis yang akan dia lakukan. Selama masa kontrak kerja dengan dirinya aku merasa sangat bahagia, karena dia memberikan perhatiannya kepadaku secara penuh dan totalitas. Pagi, siang dan malam aku selalu memikirkan dirinya seperti layaknya orang yang sedang kasmaran padahal dia adalah rekan kerjaku sendiri. Seiring berjalannya waktu aku sengaja mengajak dirinya jalan-jalan ke mall untuk menonton sebuah film. Dan ternyata dia menerima ajakanku dengan senang hati.
Malam itu rasanya aku ingin sekali terjun dari langit ketujuh lalu hinggap di hatimu. Wajahmu tak pernah membuat diriku bosan. Senyumanmu membuat hatiku meleleh. Hingga pada akhirnya aku dan dia duduk bersanding di sebuah warung kopi lesehan. Malam semakin larut dan mungkin ini kesempatan bagi diriku untuk mengungkapkan seluruh isi hatiku. "Arie, akun pingin ngomong sesuatu kepadamu", ucapku. " Ngomong aja", ucapnya sembari meminum jus melon. "Aku sejujurnya suka sama kamu," tanyaku dengan suara lantang dan kulihat Arie keselek minuman hingga dia tersedak. "Kamu nggak apa-apa , ri?" ucapku sembari membersihkan mulutnya dengan tisu. Kejadian itu menjadi sangat romantis ketika mataku dan matanya bertemu satu dengan yang lain. Tiba-tiba Arie tertawa terbahak-bahak seolah-olah kalau diriku sedang mengeprank dirinya. "Kamu lucu, deh", ucapnya tersenyum manis kepadaku. Kali ini aku mencoba menyakinkan dirinya bahwa aku sayang kepadanya. Saat itu aku membuka cincin emas lalu aku masukkan ke jari manisnya seperti adegan film FTV. " Maukah kamu menikah dengan aku?" tanyaku dengan tatapan mata serius. Ariepun mulai terdiam dan suasana semakin hening. Arie hanya bisa bengong melihat diriku yang dirasa aneh. "Kamu sehat, kan?" tanya Arie. "Iya aku sehat,lalu?" aku balik bertanya. "Maaf, An. Bukannya aku nolak, tapi aku aslinya udah punya suami, nah suamiku sekarang lagi ditugaskan di papua, ya beginilah nasib ibu-ibu keluarga militer",ucapnya dengan jelas.
Saat itu aku hanya bisa tertawa dan menertawakan kekonyolan ini bersama, padahal di dalam hatiku sebenarnya aku sedang menangis. Hingga pada akhirnya Arie dan aku berpisah karena kontrak kerjaku dengan dirinya sudah selesai. Kini aku baru sadar ternyata wanita yang aku anggap ibu-ibu ternyata dia ibu-ibu yang sesungguhnya. Aku merasa kecewa karena sudah berharap kepada dirinya. Namun apalah daya aku hanya seorang tukang desain yang bisa mencintai kliennya sendiri, tapi berakhir dengan ambyar lalu patah hati.
Komentar
Posting Komentar