Syelin Rosalina
Pertama kali melihatmu hatiku seperti tertusuk diri, rasanya pedih karena aku ingin memilikimu. Betapa pilunya hatiku ketika melihat dirimu sedang berjalan dengan seorang lelaki yang tidak aku kenal. Selama ini aku salah persepsi, ternyata cowok itu adalah kakak kandungmu sendiri. Dalam hati aku mengucap Alhamdulillah. Mungkin sudah saatnya aku mengungkapkan rasa ini kepadamu, sehingga aku tidak perlu mengawasimu seperti ini lagi.
Namamu adalah Syelin Rosalina, gadis cantik yang saat ini kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Pertama kali kenal pada saat engkau mengikuti lomba membaca puisi. Saat itu engkau mendapatkan juara kedua, kebetulan saat itu aku yang menjadi panitia acara tersebut. Wajahmu manis semanis madu di Gunung Sindoro. Senyumanmu membuat dunia berhenti berputar. Auramu membuat diriku melayang. Tak ada kata yang bisa aku ungkapkan lagi, menurutku engkau adalah wanita yang paling sempurna.
Aku melihat dirimu sedang membaca buku di perpustakaan kampus. Ternyata kamu orangnya kutu buku. Engkau memakai baju berwarna merah dan kerudung hitam polos. Kuberanikan diri untuk menemui dirimu. Hatiku mulai berdegup kencang, karena ini pertama kalinya aku menemui wanita seorang diri. "Kenalin namaku Aan Khunaefi," ucapku sembari mengajak dia bersalaman. Saat itu dia hanya diam dan tersenyum dengan aku "maaf bukannya nolak untuk bersalaman, cuma dalam agama saya tidak boleh bersentuhan tangan dengan seseorang kalau bukan muhrimnya," tukasnya kepadaku. Dalam hati aku berbicara "rupanya Syelin Rosalina, mirip dengan ukhti-ukhti yang ada di masjid sebelah, kalau kayak gini aku sendiri yang minder," gumamku.
Aku sedikit menyesal karena Syelin tidak mau berjabat tangan denganku, mungkin dia terlahir dari keluarga yang kultur agamanya sangat kuat. Tapi bukan masalah buat diriku, yang penting aku bisa duduk bersanding dengan dirinya. "Selamat ya kemarin kamu dapat juara dua," ucapku sembari tersenyum. "Iya, Mas. Alhamdulillah, aku juga nggak nyangka kalau bisa menang, padahal kemarin latihanku kurang maksimal,"ucapnya dengan pandangan menunduk. "Ngomong-ngomong tentang puisi, aku punya lho karya puisi yang aku tulis sendiri, kalau kamu nggak keberatan besok ada acara festival membaca puisi di kampus ITS, nanti karya puisiku bisa kamu bawakan di atas panggung," ucapku dengan nada sedikit pelan. "Hem, InsyaAllah kalau nggak ada halangan ya, Mas. Nanti malam puisinya kirim lewat email saja," ucapnya merespon keinginanku.
Sungguh pertemuan yang sangat mengesankan. Syelin Rosalina membuat diriku di mabuk cinta. Semalam aku nggak bisa tidur, karena harus membuat puisi cinta untuk Syelin Rosalina yang akan dibaca dirinya besok siang. Kurang lebih puisinya seperti ini.
Bidadari Kampus
Wajahmu seperti embun
Setiap pagi menyejukkan hatiku
Wajahmu seperti hujan
Setiap malam membasahi tidurku
Hatiku sedih jika engkau pergi
Hatiku resah jika engkau patah
Hatiku rindu jika engkau pilu
Hatiku sakit jika engkau pamit
Oh, bidadari kampus
Membuat aku terbius
Karena cinta aku haus
Yang bisa membuat diriku mampus
Tetaplah berdiri disini
Aku akan tetap menanti
Jangan pernah engkau pergi
Karena cintaku tak pernah berhenti
Keesokan harinya puisi itu dibaca oleh Syelin Rosalina di panggung festival dies natalis kampus ITS. Sambutan yang luar biasa dari penonton, karena puisi ini cukup menghibur dan makna puisi ini sangat dalam sehingga beberapa orang ada yang sampai menangis. Saat itu aku menemui Syelin Rosalina di belakang panggung. "Selamat ya, tadi keren banget kamu," ucapku sembari mengajak dia berjabat tangan. Rupanya dia masih tidak mau tak ajak salaman. "Hem, iya, makasih, mas," ucapnya seraya tersenyum manis kepadaku.
Saat itu acara festival mulai sepi, karena sudah memasuki waktu malam. Aku dan Syelin menunggu bis di halte yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Tiba-tiba saat itu hujan turun sangat lebat. Kulihat Syelin mulai kedinginan. Terpikir olehku untuk mencopot jaket seperti yang ada di sinetron televisi. "Syelin, pakailah jaketku supaya kamu tidak kedinginan," ucapku memberi perhatian kepadanya. Wajannya yang cantik menatapku dengan sebuah senyuman manis. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya.
"Syelin, aku pingin ngomong sesuatu sama kamu," ucapku sembari menunggu bis datang. "Iya, silahkan, biasa aja kali," ucapnya menanggapiku sedikit cuek. "Sebenarnya dari dulu aku ada rasa sama kamu," ucapku dengan tatapan mata tajam. "Aku nggak ngerti deh apa yang lho omongin," ucapnya sedikit sinis. "Syelin, sebenarnya aku itu suka sama kamu, maukah kamu jadian sama aku?"ucapku dengan jelas. Saat itu suasana menjadi hening, rintik hujan tak kunjung berhenti, suara petir menyambar begitu kencang, sehingga membuat Syelin terkejut, lalu tak sengaja memeluk diriku dengan pelukan yang sangat erat. Eh, ternyata bohong, saat itu aku lagi melamun saja. " Maaf, An. Aku mau fokus kuliah dulu, belum sempat berpikir sampai kesitu. Lagipula setelah lulus aku pingin ngelanjutin kuliah di Malaysia, mungkin aku juga jarang pulang ke rumah, karena nyokap sama bokap sudah lama tinggal disana," ucapnya menjelaskan semuanya kepadaku.
Saat itu aku merasa dunia ini berhenti berputar. Andaikan waktu bisa berputar aku ingin kembali ke rahim ibuku. Ternyata cinta itu kejam. Sebuah jawaban yang membuat diriku tidak bisa makan dan minum seharian. Syaraf otakku seperti terkena senapan angin lalu merasuk ke dalam hatiku bagaikan terbakar api. Sebuah penyesalan yang membuat diriku trauma dengan istilah jatuh cinta. Setelah mendengar jawabanmu, separuh hidupku telah hilang dan semangat kuliahku menjadi hilang. Rasanya hidupku seperti pelangi yang tidak berwarna. Sejak saat itulah aku merasa menjadi seorang pria yang paling lemah.
Aku dan Syelin pulang dengan membawa perasaan saling kecewa. Wajahku terlihat ceria dan bersemangat namun hatiku menjerit dan menangis seperti bayi yang sudah seminggu tidak diberi makan. Selamat tinggal Syelin, engkau adalah wanita yang pernah mengisi hari-hariku menjadi lebih bersemangat. Kuharap engkau bisa mengejar cita-citamu disana. Jika engkau nanti sudah menikah dan punya anak, tetaplah ingat kepada diriku yang pernah mencintaimu sepenuh hati. Percayalah, bahwa cinta akan datang dan pergi seperti engkau lahir dan suatu saat akan mati. Aku hanya bisa mencintaimu namun aku tidak bisa memeliki dirimu. Cukup hanya cinta yang bisa menjelaskan semuanya.
Komentar
Posting Komentar